Cập nhật mới

Khác Asmaralibrasi

[BOT] Wattpad

Quản Trị Viên
Tham gia
25/9/25
Bài viết
181,601
Phản ứng
0
Điểm
0
VNĐ
44,735
321047168-256-k191268.jpg

Asmaralibrasi
Tác giả: aeraskyy
Thể loại: Cổ đại
Trạng thái: Đang cập nhật


Giới thiệu truyện:

Dasgyrdsaa



ming​
 
Asmaralibrasi
Satu dua hujan


Sisa sisa rintik air hujan masih jatuh dari langit satu persatu, perlahan awan menjatuhkan air cristalnya yang di tampungnya penuh penuh sebelum mengeluarkanya dengan deras hingga tidak menyisakan satupun.

Karena hal ini juga terjadi sejak sore, matahari sudah tidak terlihat lagi cahayanya.

Jakarta sore ini sedikit sunyi, hujan membuat padatnya jalanan setidaknya sejuk mengguyur polusi dan debu debu kotor di jalanan, motor motor yang membeludak kini sedikit di singkirkan oleh cuaca, jakarta setidaknya bisa bernafas sejenak berkat hujan.

Hal lainya yang baik ketika hujan datang adalah di sebuah toko ice cream italia di gang Purnomo III deretan paling akhir, hal baiknya adalah tidak ada yang mengunjungi toko ice cream di tengah hujan deras seperti ini, mungkin saja ada tapi itu adalah orang yang unik, sekitar 2 dari 500 orang di jakarta.

Para pelayan toko ice cream yang selalu kewalahan akibat membeludaknya pelanggan kini termenung sambil memandang depan toko yang kosong tampa hiruk pikuk manusia berlalu lalang sambil membawa ice cream segala jenis, para pelayan kini hanya bersantai sejenak dengan apron mereka yang masih bersih mengkilap, bercanda gurai hingga membuka buku tulisnya untuk mengerjakan tugasnya di sela sela jadwalnya bekerja.

ialah Jeno, Januar purnomo yang kerap di panggil jeno oleh orang sekitarnya.

Dalam pojokan gudang penyimpanan stock bahan bahan ia terduduk dengan buku buku kuliah yang terbuka lebar, jarinya menulis cepat diatas kertas putih, beberapa kali matanya meneliti buku tentang proses manufakturing sebelum pencilnya menulis jawaban jawaban lainya di buku tulis tebal kotak kotaknya.

jeno merasa bersyukur sore ini hujan, tugas kuliah dari pak Rusdi mata kuliah proses manufakturing begitu banyak dan rumit, jawabanya essai hingga membuatnya harus menulis panjang lebar sesuai minimal kata yang berlaku.

Jeno sudah optimis jika malam ini akan kembali terjaga untuk mengerjakan tugas tugas dari pak Rusdi, namun hujan sore ini menyelamatkanya, di sela sela pekerjan sampingan yang ia ambil sepulang kuliah, kini Jeno bisa memakai waktu luang itu dengan membuat pr dari pak rusdi.

Mungkin malam ini ia juga bisa membantu ibunya menggulung risol untuk di dagangkan esok pagi, jeno tidak enak melihat dari kemarin hanya adiknya yang membantu ibunya menyiapkan daganganya.

keberuntungan lainya datang selepas jeno menyelesaikan tugas tugas kuliahnya, Ko lim, pelaku pemilik usaha toko ice cream italia ini memutuskan untuk menutup toko lebih awal, beliau menduga hujan akan datang dengan lama, percuma membuka toko ice cream di tengah hujan.

Keberuntungan ini juga yang membuat jeno tersenyum lebar hingga matanya menyipit hilang, ia bisa pulang lebih awal, terhindar dari desakan trans jakarta yang penuh di jam jam kerja pada umumnya.

Pria muda yang bekerja di toko ice cream italia itu akhirnya segera berlari menerobos hujan menuju halte busway, telinganya di sumpal earphone yang mengeluarkan lagu lagu mengalun melodi di telinganya, duduk di bagian belakang dekat jendela, ia menikmati bagaimana sisa sisa hari ini akan berjalan dengan sejuk.

Dalam waktu 47 menit, Jeno bisa berdiri di halte jeruk dekat rumahnya, berjalan kaki sekitar 1 km sebelum bisa memandang bangunan tua rumah susunnya.

Ia berbelok kiri masuk ke dalam gang sempit yang sedikit terendam banjir, air got yang meluber dari selokan membuat jeno harus terdiam sesaat sambil menepi naik ke atas teras teras rumah di dekatnya. tasnya yang sudah terlapisi kantong kresek hitam tidak perlu lagi ia khawatirkan, sekarang yang perlu di fikirkan adalah sepatu putih nya yang sudah basah, cukup buruk kondisinya, jeno tidak mau jika sepatunya di tambah buruk dengan harus basah akibat air comberan, belum dari jalan masuk ke bangunan tinggi rumah susun adalah jalan tanah, sudah terendam air comberan juga harus masuk di lapisi tanah.

Ini sepatu paling bagus yang jeno miliki, walau bekas milik Naren, tapi ini satu satunya sepatu putih bersih milik Jeno, ia tidak mau harus kesusahan mencari sepatu elok di masa depan jika sepatu satu-satunya yang putih bersih harus juga masuk ke dalam sepatu kuning miliknya.

putusanya bulat, jeno memilih bertelanjang kaki, menenteng sepatu nya untuk melewati gang yang terendam air hitam dari selokan yang menggenang. sampah sampah plastik jajanan menggambang, di ikuti oleh kecoa yang berenang dengan khitmat.

Perlahan ia berjalan melintasi gang itu sambil menyeringit, tampa meninbulkan riak air lebih hebat atau membuat hewan hewan kotor itu harus menempel pada kulitnya. perlahan di tengah hujan yang deras, Jeno memilih langkah dengan hati-hati.

TAK!

TAK!

TAK!

Ada suara langkah kaki cepat di belakangnya, riak riak air yang hebat ibarat ombak membuat jeno membesarkan matanya ketika di atas kayu yang mengambang membawa dua sampai tiga kecoa harus tenggelam, membuat kecoa kecoa itu berenang tak tentu arah.

Jeno semakin panik, panik hingga ia menoleh wajahnya kebelakang dengan marah pada siapapun yang menimbulkan riak air sehebat itu disini.

"MAS JENO!"

"TUNGGU HARDIAN!"

"NEBENG PAYU—

Brak!

sudahlah, jeno sudah pasrah jika kakinya di tempeli kecoa atau menginjak sampah sampah lumut dari air got akibat gelombang besar dari sang adik tercinta yang terjatuh di atas jalan yang terendam air selokan.

"bawa ban aja sekalian Hadrian, berenang kamu disini."

Lirihnya dengan malas, tampa peduli lagi ia berjalan dengan cepat untuk mengulurkan tanganya pada si bungsu yang terduduk sambil membinarkan mata sedihnya.

"sakit mas." keluhnya manja, mengusap ngusap pantatnya.

"Basah juga." keluhnya lagi, menunjuk kemeja kotak kotak hitam serta celana jeans nya yang kini sudah basah + bau selokan.

Jeno menyeringit, "udah tau, bau juga lagi." lirihnya ketus.

"mas." 🥺🥺

"yaudah, gak papa."

"sakit mas." 🥺

jeno sedikit menahan tawanya, menepuk nepuk pundak hardian sambil membagi payungnya pada si bungsu.

"Ayok deh pulang.

Sebelum magrib di jalan."

Ingatnya

Mereka yang bersaudara berbagi payung kini kembali berjalan perlahan melintasi gang tembok tua yang penuh di corag coret oleh pilok dan sejenisnya.

Kecoa kecoa menyelamatkan diri dengan menempel pada tembok, tikus tikus berenang melewati mereka dengan berani, sampah sampah menggenang begitu saja di hadapan kaki mereka.

Hadrian masih sibuk mengelua ngelus pingangnya yang sedikit ngilu, jeno sibuk memastikan payung mereka menutupi setidaknya kepala mereka dari rintikan air hujan yang masih membasahi kota jakarta sore ini.

"kamu dari bengkel?" tanya jeno, membuka percakapan.

"enggak, dari rumah bu Utami di depan gang ini loh mas. suaminya minta aku buat ngecek mobilnya."

"bisa?"

"ENGGAK LAH!

Panggil damkar.

Emang aku panji apa."

langkah jeno berhenti, wajahnya menoleh pada hardian dengan sangat heran.

"mobil? mobilnya masuk mana?

Kok panggil damkar?"

hardian menghela nafasnya panjang, "jadi di dalem kap mobilnya, ada anak uler.

Ada tiga."

Hardian menunjukan tiga jarinya dengan dramatis.

"Itu mobil kan lama gak di gunain, bayangin aja bang idih serem banget ada uler beranak begitu.

Kaget banget hardian pas liat, sempet aku toel lagi, kirain apa gitu kok lembek lembek, yaallah bang ternyata uler piton."

"terus induknya ketangkep gak?"

"Enggak!

Tapi kan selokan rumahnya bu utami di bongkar juga tuh bang, takutnya ada induknya disana.

Eh tapi belum ketemu."

Jeno menunduk, melihat kakinya yang bergenang air hitam sebetisnya yang di penuhi riak riak air berkat tetesan air hujan. selokan selokan yang tetutup, serta aspal jalanan yang tidak terlihat.

Apapun di dalam air sana yang menyentuh kulit kaki jeno. permasalahnya satu, selokan got ini masih terhubung dengan selokan rumah bu utami di depan gang.

"hardian.

LARI!"

"KENAPA MAS?!

ENGAK MAU AH NANTI JATUH LAGI!"

"ULER!

INDUK ULERNYA BELUM KETANGKEP KAN!"

"HAH?

HAH!

HAH!"

Hadrian yang kakinya jauh lebih tinggi dari jeno melangkah lebih lebar dan gesit meninggalkan abangnya yang berlari dengan hati hati, pula sambil memegangi payung hitam supaya kepalanya tidak terkena hujan.

si bungsu yang sudah mencapai ujung gang kini hanya bisa menyemangati Jeno dengan kata kata teriakan, terpendam juga oleh suara gemuruh petir.

ketika dengan segala kehati hatianya, Kini jeno bisa menyusul hardian yang sudah tertawa lepas di bawah hujan, rambutnya sudah basah hingga di wajahnya mengalir satu dua tetes air hujan.

Hardian baru menyadari betapa bodohnya mereka berdua, terlebih dirinya yang tidak sadar akan induk ular yang di duga di selokan rumah bu utami, yang menyambung ke gang sempit bau juga banjir tersebut.

ketika Jeno sudah menghela nafas lega tiba di ujung yang memiliki dataran lebih tinggi hingga tidak tergenang air, mata jeno kembali memutar dengan malas ketika sadar harus melewati jalanan tanah sebelum masuk ke gedung bangunan rumah susun di hadapan mereka.

"Hardian, sebelum kita ngelewatin tanah belok di depan, mending kamu cerita lebih dulu sekarang ada hal apa hari ini.

Gak ada kodok beracun yang lepas di lapangan kan?"

hardian sendiri masih tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit.

"Enggak mas!

Enggak beneran!

Gak ada cerita kodok beracun kabur ke lapangan.Tapi ulernya siapa tau dari lapangan juga?"

Ujarnya terisak.

Jeno menunduk dengan lelah, sedikit tertawa akibat tawa milik hadrian yang menular.

"uler suka tempat yang lembab, gak mungkin di lapangan.

Tapi beneran kan gak ada cerita hal hal lainya yang serem?"

"Iya gak adaa," ujar hardian berusaha menetralkan nafasnya.

Jeno menganguk, kembali berdiri untuk bersiap melewati 20 meter tanah lapangan belok yang tergenang air hujan. ia berbiat memimpin jalan untuk mencari jalan yang sedikit keras untuk di tapak.

"Tapi mas, ada deng cerita lainya."

"Hardian, cepetan cerita sebelum kita lewatin tanah belok!"

"tapi ini gak serem sih, tadi hardian ketemu sama Kak Dira, temenan loh sekarang sama si Putri dari rumah lantai 3."

"kapan?"

"tadi pas hardian kerumah bu utami."

"oh, yaudah. udahkan gak ada cerita lainya yang berbisa kabur ke lapangan?"

"clear, mas."

"ayo pulang, kasian ibu pasti lagi ngolah adonan risol sendirian."

"pengin bakso mas jadinya."

"Gak relevan ya hardian."

"Hehehe."

mata jeno menatap pintu masuk rumah susun yang di bagian kirinya terdapat bangku bangku dari ban serta balok balok kayu bekas yang kini basah terguyur hujan.

Setiap sore kerap kali anak anak tongkrongan susun menangkir disana sambil bermain gitar, sudah di tegur pak rw susun karena anak anak tongkrongan itu gemar menggodai perempuan perempuan remaja yang berlalu lalang, bahkan tidak segan segan menyentuhnya, tapi anak tongkrongan itu pula yang membuat rumah susun selalu aman dari kasus kasus kriminal di sekitar mereka.

jeno jadi khawatir jika si yang di sebutkan oleh Hadrian menuju ke rumah putri di dalam rumah susun, pasti anak anak tongkrongan akan melontarkan godaannya pada gadis itu, mungkin berani sampai mencegatnya karena si gadis memang elok, mencolok rupanya yang ayu.

Duh jeno jadi jengkel sendiri.

"mas tungguin hardian!

Aduh susah jalanya nih!"

"hardian kamu gak boleh jatuh, mas gak mau tolongin kalu jatuh!"

"KALAU UDAH TAKDIR GIMANA MAS?!"

"yaallah hardian, kasian ibu nyuci baju kamu yang bau comberan juga bau tanah."

"mas...🥺🥺"

Oh, jeno juga lupa satu hal.

Si gadis bukan perempuan lemah yang butuh perlindungan.

_____
 
Asmaralibrasi
frekuensi


"jen, motor lo mana?"

"dijual."

ekpresi Athlas jauh lebih lebih terkejut dari dugaan jeno sendiri, segelas kopi americano dengan 7 shoot ekpreso yang sudah masuk mulut athlas bahkan sampai-sampai tersembur keluar. hampir saja kaos biru muda jeno tercipratan nodanya, untung saja dirinya menghindar secepat mungkin.

melihat respon athlas yang begitu dramatisir keadaan, bibir jeno mencibir.

"gausah lebay, gue jual motor bukan jual ginjal."

athlas tidak terima, barangkali kefudukan motor sudah lebih penting dari organ menyerap racun pada tubuh.

"SI GAGAK KAN?

ANJING LO KOK JAHAT BANGET?

DIA KAN YANG NEMENIN LO DARI DULU ANJING NONO!" ujarnya nyaris berteriak, nyaris memberikan pengumuman pada tongkrongan kampus persoalan si gagak hitam, motor vario 125 yang jeno beli dari satpam rumah athlas saat mereka masih sma, kini telah resmi terjual begitu saja tampa pamit--maksudnya athlas si gagak sudah dia anggap anaknya juga--anak tiri.

yang pakai kaos biru muda hanya membenarkan tata letak masker hitamnya.

"ibu gua juga udah nemenin gua dari dulu."balasnya santai.

"btw bawa parfum ga? bagi." tanyanya lagi

athlas masih menganga, mulutnya terbuka tidak bisa mencerna hal ini dalam beberapa detik.

"loh ibu lo kenapa?bukanya udah sembuhh? kan lo udah kerja, punya duit lah, gak harus sampai ngorbanin si gagak." lalu athlas menyodorkan tas hitamnya yang tipis, hanya berisi satu buku tulia dan satu pulpen berharga 7 juta, juga parfum dari merek ternama.

memang perkataan athlas ada benarnya, jeno sudah kerja, tapi ia bekerja untuk menambah biaya keperluanya sehari-hari--juga keperluan rumah seperti alat bersihh bersih yang rusak atau panci yang gagangnya patah. biaya seperti obat ibunya diluar uang pegangan jeno, belum lagi ibunya harus di opname akibat kekurangan daraah yang drastis, kelelahan yang begitu parah hingga merusak pasokan darah milik ibunya, jeno masih bersyukur ibunya tidak pingsan saat bekerja. masalah keuangan semakin diperumit oleh Hardian yang baru saja masuk kuliah, uang dari gaji ayahnya sudah teralirkan kesana, untuk biaya tak terduga seperti hal ini maka jeno yang harus mengalah secepatnya, iya secepatnya sebelum hardian yang berfikir pendek itu mulai merasa bersalah dan menolak untuk berkuliah.

"terus lo pake apaaa anjinggg jenoo? lo kira kampus cuman lima langkah dari rumah lo? kalau nongkrong gitu gimana?"desak athlas tidak mengerti, yang terlahir di dalam castle berlapis emas tidak akan mengerti tentang hal ini.

"ada transjakarta, lo kira ini kota apaan sih, goblok."

athlas melepas topi putihnya frustasi, berkaca pingang di depan jeno.

"YA TERUS KALAU MAU DATE SAMA SILVI NAIK APA?"

dalam beberapa detik, jeno baru ingat soal perempuan medok yang punya paras jelita, anak jurusan seni yang katanya kembang desanya jurusan bebas itu, tidak lain pacarnya setelah yang puan mendesaknya untuk menerima ajakan pacaran selama 5 bulan, jeno sudah berulang kali tegas untuk menolaknya tapi teman-teman tongkronganya memaksanya untuk menerimanya, katanya silvi puan baik-baik, tidak melihat dari harta seperti perempuan cantik jakarta lainya. sebenarnya jeno gak mempermasalahin soal puan yang melihat laki-laki dari isi dompetnya, kebutuhan mereka banyak, jeno paham, makanya ia selalu menghindari urusan percintaan seperti itu, melihat teman-temanya mengeluarkan uang sampai 2 juta untuk sekali jalan membuat perut jeno mules, kepalanya pusing, darahnya seolah mengalir terbalik, intinya jeno tidak bisa memikirkanya.

"kayaknya gua di putusin, kemarin chaos banget jadi gua lupa chek hape seeminguan--oh iya bener gua di putusin, kata hardian ada chat panjang lebar dari silvi."

"jen...."

"gua udah bilang, las. gua gak bisa."

sahabatnya dari smp itu menghela nafas panjang, Athlas kembali duduk di bangku sambil menyisir rambutnya putus asa.

"jeno lo sadar gak sih kalau lo tuh depresi? gue tuh mau bantu lo nafas sejenak dengan having fun, dunia ini tuh luas, please stop nutup diri dari orang-orang dan ngerasa kalau lo tuh gak worth it karena duit lo dikit. lo ganteng bisa main-main sama cewe, having sex, drug, clubbing, ayo kabur bentar. lo punya gue Jeno, gausah ngerasa stress gue bisa jamin abis lulus lo bakal kerja di kantor bokap gue. at least kalau lo gak sayang sama Silvi, you still use her, right? bawa ke kamar."

bibir tipis jeno mulai tertarik hingga matanya menyipit seperti sang purnama.

"kuatin rahang lo, Las.

Gua mau nonjok muka lo sekali."

lampu-lampu temaram muncul, papan papan reklame besar yang menyorot mata, bintik cahaya satu dua mulai terlihat dari gedung-gedung tinggi, cahaya buram dari kendaraan juga ikut menyumbangkan cahayanya.

Jakarta kota padat 24 jam itu setidaknya masih punya kebangaanya saat malam hari, bintang bintang alami.

Jeno menyenderkan tubuhnya pada taing besi halte busway, telinganya di sumpel earphone kabel yang panjang menjuntai hingga masuk ke dalam sakunya, tempat ponselnya bertengger. manusia ramai padat mengisi halte besar tempat bus bus transite, ramai-ramai mereka mengantri, semuanya sibuk punya tujuanya masing-masing. ada yang menunggu sambil bermain stumble, mengobrol dengan temanya, memainkan sosmednya, semuanya terlihat oleh jeno yang diberikan tubuh yang tinggi oleh tuhan, oh ada juga yang mencopet diam-diam. jeno sejujurnya ingin menolongnya tapi melihat yang mencopet adalah si cungkring, temanya hardian, jeno mengurungkan niatnya, nanti saja ia bilang ke adiknya supaya menegornya langsung.

oh selain itu, mata jeno juga menangkap perempuan dengan almet kampus yang sama denganya. kalau jeno tidak salah lihat, itu adalah Ann, anak perempuan dari bu Adeline yang punya laundry di jalan besar. malang sekali Ann, tubuhnya yang kecil terhimpit himpit oleh rombongan busway yang baru saja keluar dari arah BKN, ramai hingga membuat perempuan itu terdorong dorong mengikuti arus, mencibir tapi tetap terdorong oleh rombongan manusia yang buru buru mengantri di arah lainya.

tampa sadar, jeno tertawa kecil. kasihan, jeno jadi bersyukur jika ia terlahir laki-laki dengan gen yang tinggi berkat Oppa nyya, walau sejujurnya hardian lebih serakah dari pada dirinya. mata jeno kembali memperhatikan gadis yang wajahnya menubruk tas bapa-bapak di hadapanya, alisnya menukik marah sambil menoleh ke belakang--tersangka yang mendorong tubuhnya, oke siapa yang menganggapnya serius jika marahnya saja seperti itu?

jeno lagi-lagi terkekeh menahan tawanya menjadi lebih besar. ia sejujurnya ingin menikmati kejadian lucu itu dari jauh, ia tidak berniat menghampiri sebab ia tidak begitu dekat dengan perempuan itu. tidak akan pernah juga. tapi sialnya, Ann terlalu peka oleh sekitar. ketika mata jeno masih memperhatikan gadis itu sambil terkekeh, Ann malah memandangnya balik dengan tanda tanya, matanya menyipit berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat.

tawa jeno pupus, dirinya mendadak panik hingga memalingkan wajahnya, membenarkan posisi berdirinya sambil memaki tindakan konyolnya barusan.

"JENO!"

adduh, segala di panggil. jeno pura-pura baru melihat gadis itu, alisnya naik hingga tanganya terangkat.

"oh?Hai!" balasnya tampa suara.

"MAU KEMANA?!"

jeno asal menunjuk arah, "kesitu" balasnya tampa suara.

"OH, HATI-HATI JEN!

BANYAK COPET!"

.........

mungkin tukang copet di sekitar Ann sudah panik duluan merasa tertuduh. apalagi si cungkring yang gelagapan panik serta dua temanya yang membelak kabur dari kerumunan.

"hati-hati juga."balas jeno dengan suara kecil, tapi sepertinya yang di hati-hatikan sudah tidak bisa mendengarnya, Ann sudah terdorong arus memasuki busway begitu bus datang dan membuka pintu. dirinya hilang terbawa ramai-ramai masuk, mata jeno kembali menyipit tajam memandang kaca busway untuk mencari keberadaanya. mudah saja ternyata, Ann mendapat tempat duduk dekat kaca, perempuan itu melambaikan tanganya pada jeno dengan semangat, rambutnya yang di kuncir kuda tadi sudah merosot mungkin akibat masuk ke busway harus penuh perjuangan untuk tubuh sekecil itu.

Ann kembali membuka mulutnya, membuat gerakan bibirnya sejelas mungkin untuk jeno tangkap pesanya.

"pulangnya jangan malem-malem."

"hati-hati."

bibir jeno tersenyum dengan dalam, saking dalamnya hingga matanya tertutup akibat ikut tersenyum.

Jantungnya berdebar dengan ria, mempunyai teman satu daerah rumah memang asik, solidaritasnya tinggi.

Walau sejujurnya ia dan Ann beda desa juga sih, tapi jeno masih kenal dengan Ann yang pernah satu SMP denganya.

bus yang Ann tumpangi mulai melaju dengan perlahan, Gadis itu melambaikan tanganya dengan cepat ke arah jeno dengan tersenyum ceria seolah battery energinya masih tersisa banyak. diantara seluruh kerumunan yang bewarna abu-abu, aneh juga Ann masih bisa berekpresif mengeluarkan ekpresinya yang bewarna.

pikiran jeno harus terpaksa teralihkan akibat notifikasi whatsapp yang masuk ke ponselnya, menjeda lagu yang ia sedang dengerkan sejak tadi.

Hardian

Bang, gausah beli beras

Udah aku beli di warungnya cakala

Gratis bang,

Rejeki 😎

Jeno:

Beneran?

Udah bilang maksih belum ke tantenya?

bilangin besok abang bayar aja

Nant abang wa cakala

Gak enak di kasih mulu

Hardian

Iya bang gpp katanya

Hardian bantu jagain toko tadi

Si cakala cakala itu gak mau di suruh

Jadinya hardian aja.

eh dapet gratis beras.

Bang cepet pulang ya

Laper nih akuu
 
Asmaralibrasi
Laras rasa


Hari ini penuh dengan kejutan keseruan di setiap sudut tempat yang Ann singgahi, dari pagi di mulai dia yang mendadak rajin olahraga keliling rumah dia(rumahnya kecil, sebenernya gak ngaruh tapi mari apresiasi) terus sarapan bubur kacang ijo dari mang Imam yang rasanya enak buanget sampe Ann pengin nambah, abis itu dapet job anter laundryan yang perlu dianter ke 18 rumah dalam satu hari.

Sebenernya ada karyawan mamahnya yang anter, tapi hari ini lagi banyak pesenan anter laundry jadi ya Ann nurut aja, soalnya dia gabut juga di rumah.

Cakala gak bisa main soalnya juga di suruh jaga warung nya, yaudah Ann ngambil job lainya selain jagain kosan ayahnya yang di lantai dua (jagain kosan = selonjoran di rumah)

Sebenernya libur semester kuliah ini pengin Ann pake buat magang di perusahaan kaya shopee, tokopedia, kaya gituu, cuman setelah tahap wawancara si Ann terliminasi karena sainganya si anak yang bapaknya manager di sana, yaudah deh.

Ann mikir kayaknya dia bisa di pertimbangin kalau look dia secakep adek ceweknya, delia, tapi berhubung kenyataanya Sebalijnga jadi yaudah, emang kayaknya Ann di suruh ambil kerja di rumah alias mantauin cctv seharian sambil scroll tiktok ngegabut.

Setelah seharian keliling jakarta yang jalananya sempit-lebar-sempitlagi- akhirnya Ann selesai juga nganter laundryan di jam setengah 8 malem.

Sempet ke jeda pas siang, Ann ke rumah Cakala buat beli poci karena haus, eh gak sadar disana sampai sore.

5 pesenan pertama dianter pake mobil laundryan, terus sisanya Ann naik motor keliling jakarta buat nghampirin satu persatu.

Yang bikin serunya itu setiap rumah yang dia anter laundryan selalu ngasih tip tambahan buat Ann, kadang tipnya snack, nasi bungkus, teh pucuk.

Tau gitu dari dulu aja dia anter anter kaya gini, dapet supply makanan ngegabut di ruang cctv kan lumayan.

Menjelang magrib, Ann minta tolong cakala nemenin dia buat anter anter barang, tapi bukan nemenin yang cakalanya dateng nemenin Ann, tapi lewat telfon doang, kasian soalnya cakala kalu suruh jaga warung sampe jam 10 malem shiftnya.

Akhirnya si Ann sama Cakala podcast di jalan sambil ngelakuin kegiatanya masing masing, podcast semakin seru ketika si ratu haus perhatian di deket komplek mereka kembali berulah di snap gramnya, ngeshare lagi di sejenis warung mabok, bukan club yang dingin higenis elegant gitu, tapi warung beneran warung.

Wah udah deh kalau gibahin orang yang pernah bully mereka, gak ada abis abisnya. sampe Ann nyetandarin motornya mulutnya masih ngoceh julit tajem, Cakala di sebrang sana juga gak kalah julid.

"Mana sksd sama teh lilis, najis bangett si jamet satu" cibir Cakala di sebrang sana

Ann nganguk setuju, "najisss."

Balasnya termotivasi untuk ikut mengatainya, tanganya menenteng helem bogo biru dongkernya dan berjalan ke dalem rumah perlahan.

Matanya sadar ada banyak sendal di depan pintu, sebelum tanganya tarik handle pintu si Ann ngeketin dulu earphone micnya ke mulut dia.

"Cak bentar dulu ya, gue mau masuk rumah."

Bisiknya pelan.

Cakala mereposnya dengan buru-buru, kedengeran juga ada suara anak kecil yang teriak kalau mau beli beras.

Handle pintu di tarik sama Ann pelan-pelan, pemandangan ruang tamu langsung ke pampang jelas dari mata Ann yang berdiri di depan pintu rumahnya.

Matanya langsung nangkep sosok Jeno yang lagi duduk di atas karpet di depan meja kayu, di sebrangnya ada delia yang rapih banget bajunya—parfumnya kelewat wangi—-juga Ayahnya su junedi yang lagi nyilangin tanganya duduk di kursi sofa sambil natap Ann galak.

Ann bingung kenapa ada jeno dirumahnya dan keliatan ngobrol sama adeknya, tapi tatapan marah ayahnya lebih buat ann bingung.

"Kenapa baru balik?!"

Tanya ayahnya galak.

Ann nunjuk arah laundry ibunya ngasal, "di suruh mamah anter anter!"

Ayahnya makin sebel, mana koloran doang sama kaos ketek.

"Kamu tuh yang tegas!

Kerja sama ayah atau sama mamah!

Kamu tuh kariawan kos putra Kosim tau." bentaknya merajuk, gak terima anak buah satu satunya yang jaga cctv harus cuti seharian.

Kaki Ann ngelangkah masuk perlahan sambil mengucapkan salam pelan—dan di jawab sama Jeno doang.

"Emang kenapa yah?

Ada masalah sama kosan emang?"

Tanya Ann panik, kalau ayahnya sampai marah kaya gini berarti ada masalah di kosan sampai Ann gak bisa ngurusin.

"Hah ada apan?

Kenapa lu?"

Suara Cakala keluar dari earphone sebelah yang masih nyangkut di kuping Ann, Cakala kyaknya diem diem kedengeran suara ocehan ayahnya si Ann.

Junedi aka Ayahnya Ann kini bangkit dari duduknya, benerin kolornya santai walau mukanya masih marah.

"Gak ada apa apa untungnya!

Coba kalau ada apa apa gimana coba?!

Kan biasanga kamu yang ngurusin kalau ada apa apa!"

Bola mata Ann langsung muter gitu aja, capek sama tingkah laku bapaknya.

Delia yang kegangu akhirnya buka suara.

"Ayah sama mbak kalau berantem bisa di luar aja gak?

Adel mau belajar nih." ujarnya ikut merajuk juga.

Ayahnya berkaca pingang ke arah jeno sama delia yang duduk di atas karpet.

"Del, abis ini kamu belajar di temenin Mbak." ujarnya seenak jidat.

"Belajar apaan sih?!"

Ann jadi sebel sendiri soalnya dia gak ngerti apa apa.

"Sbm."

Balas jeno pelan.

Sbm?

Muka ann jadi nambah bingung sambil nunjuk jeno sama delia.

Iya sih di atas meja banyak setumpuk buku utbk dan sbm disana, belum lagi kertas kertas sama laptopnya delia yang masih nunjukin sejenis soal soal dari ruang guru.

"Si jeno jadi ngajarin kamu, del?" tanya Ann

"Jeno?

Ada siapa tuh?" tanya cakala ingin tahu, tapi di abaikan sama Ann buat sementara.

Delia nganguk.

"Dua minggu ini kak Jeno kerumah setiap abis magrib buat ngajarin delia sbm, mbak." tuturnya

Ann nganguk nganguk ngerti, iya sih masuk akal soalnha Jeno Maharlangit ini pinter buanget apalagi soal ipa kaya fisika sama kimia, gak ngerti otaknya bisa seencer itu sampai sbm lolos ke FTI Ui, mana si Hardian juga jebol ke FTI UI karena nilai rapott undangan.

Kini ayahnya berkaca pingang ke putri sulungnya.

"Kamu disini, awasin mereka belajar!

Ayah mau jaga cctv lagi" katanya jutek, langkah kakinya di hentak hentakin sambil jalan keluar rumah ninggalin mereka.

Delia mendecak sebel, "kekanak-nakan banget sih." cibirnya.

Ann yang liat ayahnya malah nahan ketawanya, lucu ayah nya ngambek karena Ann ngambil dua job, mana ayahnya suka gak mau kalah sama mamahnya kalau kos-kosanya lebih keren dari pada laundryan mamahnya(yang sebenernya modal awalnya juga dari ayahnya jadi otomatis itu punya ayahnya cuman yang ngemanagerin itu mamahnya)

Ann noleh lagi ke Delia sama Jeno yang harus kejeda belajarnya karena kedatengan Ann.

"aduh, udah gede kok harus di temenin.

Gausah lah ya?

Jeno gak bakal ngapa-ngapain ini."

Ujar Ann enteng, lagian jeno ini gak bakal macem macem juga sama delia.

Dulu jeno temen smp Ann, satu kelas malah jadi Ann kenal deket sama jeno, mana rumahnya di rumah susun deket komplek ini jadinya suka pulang bareng juga.

"Jeno siapa sih bangsat?"

Cakala udah geregetan disana.

Pria yang di sebut geleng kecil, "gak sopan kalau di tinggal berdua aja, temenin sebentar boleh Ann?" tanya jeno sopan.

sekelebat candaan muncul di benak Ann.

"Hayoo, gugup ya deket deket sama deliaa?"

Candanya dengan cekikikan, semua orang selalu bilang delia itu cantik banget, jadi mungkin jeno takut khilaf juga kalau deket sama delia apalagi di tinggal berdua gini.

Delia ngasih tatapan deadth steare nya ke Ann.

"Gausah ngomong macem macem."

Tapi telinganya jadi merah.

Jeno ikut ketawa kecil formalitas.

"tapi kalau Lo capek gak papa, kok.

Bisa nanti pintunya di buka aja biar gak ketutup banget."

Usulnya

"engga kok, gak capek. orang dari sini doang deket.

Gue temenin, tapi bentar ya ganti baju dulu."

Usul Ann, helem bogonya dia taruh di rak kecil belakang pintu.

"Makasih, Ann."
 
Back
Top Bottom